Jeritan Hati Seorang Istri: Suamiku Pecandu Karaoke
Saya yaitu Wanita yang mencicipi efek jelek dari hobi suami, suka karaoke. Awalnya Saya menganggap hal itu masuk akal saja, alasannya yaitu setahu saya Dia pergi ke daerah karaoke bersama teman-teman lelakinya. Bukan itu saja, dulu sewaktu Kami pacaran, Saya juga pernah diajak dan disana hanya bernyanyi, tidak ada yang lebih. Dalam pikiran, bila bersama teman-temannya hanya bernyanyi dan hanya minum alasannya yaitu sehabis pulang mencium baunya.Saya anggap itu bukan problem asal masih sanggup kontrol. Tapi semakin lama, Suami Saya justru semakin sering. Lebih menyakitkan lagi hobi Dia ternyata lebih jelek dari yang Saya kira. Jika Dia melaksanakan hobi tersebut bersama teman-temannya, ternyata ada perempuan pendamping yang bersedia disentuh bahkan tanpa pakaian. Lebih dari itu ternyata kadang ada juga yang hingga diajak kencan, pergi ke hotel dan bercinta. Memang Saya tidak melihat secara langsung, tapi dari kisah sahabat yang alhasil Saya lanjutkan dengan mendesak Dia, itu benar adanya.
Sungguh setiap Dia pergi Saya merasa cemburu yang begitu besar, sakit hati, dan juga merasa tidak mempunyai arti. Jika Saya melarang, justru perilaku murka yang Saya dapatkan. Bahkan kadang ada juga tindakan fisik untuk menyakiti Saya. Saya sungguh menderita, ditambah lagi dikala Saya mempunyai keinginan, selalu ditolak dan justru lebih mementingkan hobi Dia untuk karaoke.
Tidak berhenti hingga disitu, semakin usang kebutuhan justru tidak terpenuhi secara maksimal. Banyak sekali anggaran yang harus dikurangi. Hidup semakin terasa sulit, menyerupai hidup dalam kemiskinan. Saya berusaha mendapatkan keadaan ini meskipun sering sekali terbayang apa yang Dia lakukan bersama perempuan pendamping dalam hobinya.
Puncak penderitaan Saya, dikala perjuangan yang Dia miliki mulai surut. Kesulitan keuangan tentu saja Kami alami. Saya kira itu akan membuatnya ingat keluarga dan mulai mengurangi hobinya dalam karaoke. Tapi Saya salah, ternyata Dia tetap melaksanakan hobi yang selama ini terus dijalani. Tahu-tahu hutang dimana-mana. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana, Dia menyerupai sudah menjadi ketergantungan atas hobi tersebut.
Ingin sekali pergi meninggalkan Dia tapi bagaimana nanti anak Kami. Ditambah lagi rasa aib yang harus Saya tanggung bersama keluarga. Saya tidak tega melaksanakan ini, tapi bagaimana sanggup Dia tega terus menyerupai itu. Hingga akhirnya, Saya yang mengalah. Saya putuskan untuk bekerja dan anak, Saya titipkan pada Orang Tua. Setiap hari berangkat kerja pulang pergi padahal jarak Kota dengan Desa Saya cukup jauh. Hasilnya memang tidak seberapa tapi setidaknya sanggup mencukupi hidup Saya dan anak.
Suami lupa keluarga dan hingga dikala ini masih saja menjalani hobinya. Hasil dari perjuangan yang dijalaninya, hanya dihabiskan untuk karaoke. Hingga dikala ini masih menyerupai itu dan Saya hanya sanggup berharap Dia sanggup berhenti dari hobi yang sudah merusak hidupnya. Saya akui tidak problem kalau tidak sanggup berhenti total, tapi setidaknya kalau ada uang lebih sehabis kebutuhan anak dan keluarganya tercukupi. Saya rela Dia tetap menyentuh perempuan lain bahkan mungkin hingga berkencan. Biarkan Saya mencicipi sakit hati ini asalkan tidak dengan anak Saya.
Ria - Semarang
.com - Sebenarnya aneka macam perempuan yang mempunyai nasib menyerupai Ria. Tapi mungkin aneka macam yang tidak tahu akan hal itu. Sehingga bagi Kamu yang sudah mempunyai suami dengan hobi positif, jangan tidak boleh dan berikan ruang untuk hobinya yang positif tersebut. Yang terpenting, itu tidak membuatnya lupa akan tanggung jawab. Dan bagi yang belum mempunyai Suami, sebaiknya hati-hati dalam menentukan Suami. Kenali Dia dulu sebaik mungkin, jangan hingga alhasil terjebak dalam kehidupan yang menyakitkan.
Comments
Post a Comment